Sunday, June 18, 2006
Tuesday, May 09, 2006
Lu Mau Kemana Sih - Hakikat Tujuan
ehm... tujuan-tujuan or mission itu bisa panjang, bisa pendek. Kalo mo bilang, sasaran juga boleh, tapi di sini cuma mo bilang satu garis saja.
Visi, misi, atau sasaran dalam satu arti saja. Yang mo diceritain cuma vektor-vektor arahnya aja.
So, jangka pendek dan singkat misalnya mo pergi ke pasar, mo beli rokok, mo beli buah, mo tidur. Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi kita sebut cita-cita, harapan, asa. Setelah itu apa gitu?
Satu arah (tujuan) punya karakteristik khas, dan selalu sama. Yaitu, jika telah tercapai maka tidak ada lagi "usaha". Jadi, otomatis berhenti gerak mencapai tujuan. Iya, emang sih kalau sudah sampai tujuan, ya nggak ada tujuan lagi, kecuali kita bentuk tujuan kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan itupun berbatas juga.
Tujuan juga bisa berhenti karena adanya halangan, penumpasan, gangguan, dan lain-lain. Misal, mo ke pasar, tapi karena macet maka kita belok. Variasinya, bisa mengubah tujuan, menunda, membatalkan, dan lain sebagainya.
Cinta manusia dan kebahagiaan,... mungkin berada di level yang lebih tinggi. Namun, keniscayaan ini juga akan berhenti ketika sampai ke tujuan (tercapai). Jadilah keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.
Yang ada tinggal memeliharanya. Lalu, kalau begitu apa tujuan dari segala tujuan itu. The end of the mission?
Kali nih ye, sebenarnya kita bersama-sama mengarah pada satu arah saja yang berbondong-bondong, beriringan, bahu membahu, berganti-ganti, generasi ke generasi menuju ke satu titik yang sama. Kalau arahnya berlawanan, bermusuhan, berbunuhan, iri, dengki, khianati. Semua arah kejadian, wujud-wujudnya tetap bergerak ke arah yang sama. Meski tujuan sama (tapi arahnya beda). Kebudayaan atawa peradaban memimpikan hal yang sama (pikiran - ide - paham - ideologi)
Lalu kemana semua tujuan itu berakhir?. KepadaNyalah semua kembali.
So, kalau kita letakkan tujuan akhir itu dalam kerangka acuan berpikir kita, barangkali, kita berharap bisa menjadi lebih arif untuk menatap masa dan esok hari.
Saterasna!
Visi, misi, atau sasaran dalam satu arti saja. Yang mo diceritain cuma vektor-vektor arahnya aja.
So, jangka pendek dan singkat misalnya mo pergi ke pasar, mo beli rokok, mo beli buah, mo tidur. Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi kita sebut cita-cita, harapan, asa. Setelah itu apa gitu?
Satu arah (tujuan) punya karakteristik khas, dan selalu sama. Yaitu, jika telah tercapai maka tidak ada lagi "usaha". Jadi, otomatis berhenti gerak mencapai tujuan. Iya, emang sih kalau sudah sampai tujuan, ya nggak ada tujuan lagi, kecuali kita bentuk tujuan kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan itupun berbatas juga.
Tujuan juga bisa berhenti karena adanya halangan, penumpasan, gangguan, dan lain-lain. Misal, mo ke pasar, tapi karena macet maka kita belok. Variasinya, bisa mengubah tujuan, menunda, membatalkan, dan lain sebagainya.
Cinta manusia dan kebahagiaan,... mungkin berada di level yang lebih tinggi. Namun, keniscayaan ini juga akan berhenti ketika sampai ke tujuan (tercapai). Jadilah keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.
Yang ada tinggal memeliharanya. Lalu, kalau begitu apa tujuan dari segala tujuan itu. The end of the mission?
Kali nih ye, sebenarnya kita bersama-sama mengarah pada satu arah saja yang berbondong-bondong, beriringan, bahu membahu, berganti-ganti, generasi ke generasi menuju ke satu titik yang sama. Kalau arahnya berlawanan, bermusuhan, berbunuhan, iri, dengki, khianati. Semua arah kejadian, wujud-wujudnya tetap bergerak ke arah yang sama. Meski tujuan sama (tapi arahnya beda). Kebudayaan atawa peradaban memimpikan hal yang sama (pikiran - ide - paham - ideologi)
Lalu kemana semua tujuan itu berakhir?. KepadaNyalah semua kembali.
So, kalau kita letakkan tujuan akhir itu dalam kerangka acuan berpikir kita, barangkali, kita berharap bisa menjadi lebih arif untuk menatap masa dan esok hari.
Saterasna!
Permulaan
Mengawali, belajar kembali apalagi teknologi yang terbilang maju itu ternyata susah. Logika cangkulan, engklek, atau layangan kagak bisa dipakai. Namun, benarkah kita sudah di era teknologi, di era peradaban maju. Dimanakah ukurannya?, apakah kita sudah kian berbudaya?, atau sekedar tampil lebih indah, namun sebenarnya barbarian sangat dekat dengan perilaku keseharian.....
Saterasna!
Saterasna!
